Kesan Traveling ke Jepang

Tahun 2016 merupakan tahun yang cukup spesial dalam perjalanan hidup saya. Di tahun tersebut saya berkesempatan mengunjungi Jepang dua kali (thank God!).

Ketertarikan akan Jepang sudah di-influence dari kartun dan manga yang saya konsumsi sejak SD hingga SMA. Sejak saat itu, mengunjungi Jepang menjadi salah satu bucket list saya.

Hingga tahun 2016 keinginan saya menjadi kenyataan!

Bulan Mei 2016 adalah kali pertama saya mengunjungi Jepang. Saya langsung menjajal 3 kota besarnya yakni Tokyo, Kyoto, dan Osaka. Selang 6 bulan berikutnya, saya kembali mengunjungi Jepang karena kebetulan mendapat tiket promo hanya 3 juta rupiah PP! Namun, karena keterbatasan waktu, di trip kedua saya hanya mengunjungi Tokyo saja.

Dua kali saya mengunjungi Jepang tidak membuat saya bosan, malahan membuat saya ingin ke sana lagi. Kemudahan visa dan banyaknya tiket promo ke Jepang adalah beberapa faktor pendorong kenapa saya tertarik ke Jepang untuk yang ketiga, keempat, dst kalinya (amiin).

Faktor lain yang membuat saya takjub akan negara Jepang adalah karena budaya dari penduduknya.

Selama di Jepang, saya mempelajari beberapa hal tentang budaya dan kebiasaan orang Jepang. Ternyata orang Jepang itu:

Sangat menghargai waktu

Istilah waktu adalah uang agaknya benar bagi orang Jepang. Hal ini tercermin dari tepatnya waktu keberangkatan transportasi umum seperti kereta dan bus.

Setiap pagi stasiun-stasiun kereta akan penuh oleh orang yang ingin berangkat beraktifitas (kerja dan sekolah). Mereka selalu berjalan dengan cepat bahkan berlari untuk mengejar jadwal kereta agar sampai di tempat tujuan tepat waktu. Tidak ada kata telat bagi mereka.

Ramah dan senang membantu

Karena Indonesia pernah dijajah oleh Jepang, sebelumnya saya punya persepsi bahwa orang Jepang pasti arogan. Tapi dugaan saya ternyata salah.

Yang saya alami justru kebalikannya. Penduduk Jepang sangat ramah jika kita berinteraksi dengan mereka.

Beberapa kali saya menanyakan petunjuk arah, mereka berusaha membantu walaupun mereka memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi dengan bahasa Inggris (orang Jepang jarang yang fasih bahasa Inggris). Kerap kali mereka justru menuntun saya ke tempat tujuan saya (waktu itu saya minta diarahkan ke terminal bus) karena kesulitan menjelaskan arah dalam bahasa Jepang.

Terobsesi akan mesin dan automasi

Di beberapa aspek, orang Jepang memanfaatkan teknologi mesin dan automasi agar lebih efisien. Beberapa aplikasinya adalah penggunaan mesin untuk menjual minuman ringan, rokok, menukar mata uang asing dengan yen, hingga urusan parkir.

Hal yang paling sering saya temui adalah vending machine yang menjual minuman ringan. Hampir di setiap sudut jalan pasti ada satu vending machine yang tersedia. Terkadang membuat saya bertanya-tanya siapa pemilik dari vending machine tersebut.

Suka dengan desain komunikasi yang “rame” dan “bling-bling”

Hal ini saya simpulkan setelah melihat berbagai desain poster, billboard, dan reklame di jalan. Semakin desainnya “rame” dengan warna cerah sepertinya akan semakin menarik perhatian pembaca/calon pelanggan.

Saya kira untuk hal ini pendekatan desain komunikasi, orang Jepang memiliki karakteristiknya sendiri. Sehingga apabila dibandingkan dengan desain komunikasi yang ada di Indonesia (misalnya) akan sangat berbeda.

Pekerja keras

Bahkan hingga malam hari pukul 00:00, beberapa tempat di pusat kota masih ramai oleh para pekerja yang baru pulang kantor. Salah satunya seperti di Shibuya.

Tak heran Shibuya dijuluki sebagai kota “sleepless town”  karena selalu ramai dan sibuk oleh orang-orang yang berlalu lalang 24 jam penuh.


Pernah ke Jepang juga? Silakan share pendapat kamu tentang orang Jepang di comment.

Comments

comments