Membangunkan Raksasa Tidur

Membangunkan Raksasa Tidur

Hari ke-1
Pada tanggal 18 Oktober 2012, adalah hari pertama untuk kegiatan outbondD4 Kewirausahaan kerja sama SEAMOLEC dengan Sekolah Bisnis Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB). Kami diminta untuk berkumpul di gedung kresna pada pukul 06:00 WIB. Hal pertama yang saya ambil pelajaran disini adalah ketepatan waktu sangat penting untuk selalu dilakukan dimana saja dan kapan saja. Ini adalah modal utama dalam membangun kepercayaan kepada seseorang dengan datang tepat waktu.
Outbond ini dipandu oleh Bapak Stanley Surlia dari Kaizinov. Kaizinov adalah lembaga pelatihan dan pembentukan karakter yang memiliki tujuan untuk mengembangkan potensi yang ada pada seseorang dengan maksimal. Pada sesi pertama kami diberikan materi-materi motivasi dan pengembangan diri untuk menambah keyakinan dalam diri masing-masing. Selanjutnya kami diberi tantangan untuk menjual pulpen seharga Rp 1.500 menjadi berkali-kali lipat dari harga asalnya. Ditambah dengan menjual buku seharga Rp 50.000 menjadi berkali-kali lipat dari harga asalnya.
Oleh Bapak Stanley, kami dibentuk empat kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari enam orang. Saya berada di kelompok Harimau yang terdiri dari Akbar, Buyung, Habibie, RIsma, dan Putri. Pada saat kegiatan menjual pulpen dan buku, ketua kelompok kami yaitu Buyung memiliki ide untuk membagi menjadi dua tim agar lebih efisien dan efektif. Kami berjualan di bawah terik matahari dengan membawa pulpen dan buku untuk dijual. Setiap orang di jalan kami tawarkan untuk mau membeli dagangan kami. Kesulitan yang kami alami adalah menjual suatu barang dengan harga tidak normal membuat para pembeli enggan untuk membeli barang yang kami tawarkan.
Berbagai strategi kami pikirkan untuk mendapatkan profit dan barang yang kami tawarkan bisa habis terjual. Dalam menawarkan produk, kami lebih banyak menggunakan pendekatan emosional dengan menjual nama dari ITB dan merayu dari ssi isu sosial. Selam lebih kurang satu jam, kami hanya dapat menjual dua buku dan satu pulpen dengan omzet Rp 230.000. Saat perjalanan kembali ke gedung Kresna, kami berpikir bahwa kelompok lain mungkin bernasib sama dengan kelompok kami. Ternyata hasilnya diluar dugaan kami, kelompok lain berhasil mengumpulkan omzet hingga Rp 1.500.000. dengan kejadian ini sejenak semangat kami sempat menurun karena merasa dikalahkan oleh kelompok lain.
Pelatihan menjual buku dan pulpen ini adalah latihan untuk menghadapi orangagar kita bisa mengatasi rasa malu dan takut di tolak oleh orang lain. Penolakan adalah hal yang sangat biasa dalam dunia bisnis. Tanpa penolakan kita tidak akan bisa belajar bagaimana bangkit dari kegagalan. Sebelumnya saya merasa malu dan takut untuk menjual suatu produk yang bisa dibilang tidak memiliki nilai jual tinggi namun bagaimana caranya produk tersebut bisa dijual dengan nilai tinggi. Sejujurnya saya memiliki rasa bersalah di batin saya karena menjual dengan harga yang sangat tinggi untuk sebuah produk yang bisa dibilang sangat standar, namun karena ini bagian dari latihan dan tugas juga maka saya tetap jalani.
Setelah makan siang kami kembali ke jalan untuk menjual sisa barang yang belum terjual. Kali ini kami pergi ke daerah Cihampelas yakni Ciwalk. Kami berharap karena di daerah tersebut adalah pusat keramaian sehingga pasti kami akan dapat menjual lebih banyak lagi. Namun apa yang kami harapkan malah terjadi sebaliknya. Kami mengalami rugi, karena ongkos untuk kami naik angkutan umum lebih besar daripada hasil penjualan kami. Kammi hanya berhasil menjual satu pulpen seharga Rp 10.000 sedangkan biaya operasional karena menggunakan angkutan umum sebesar Rp 20.000.
Kami mempelajari dari hal yang kami alami di Ciwalk bahwa ternyata apa yang kita harapkan tidak akan selalu sejalan pada saat penerapannya. Kami mengharapkan dapat omzet minimal Rp 1.000.000 tapi yang kami dapatkan hanya Rp 10.000 saja. Akhirnya kami hanya dapat mensyukuri saja hasil penjualan hari pertama karena keterbatasan waktu. Tepat pukul 17:00 WIB outbond hari pertama selesai dan kami pulang ke tempat masing-masing.
Hari ke-2
Pagi menyingsing dan kami berkumpul kembali di gedung Kresna SBM ITB. Outbondhari kedua ini agak berbeda dari hari sebelumnya karena kami kehilangan anggota kelompok kami yakni, Habibie dan Putri. Habibie berhalangan hadir karena memiliki urusan pribadi di Jakarta sehingga tidak bisa mengikuti outbond sedangkan Putri berhalangan hadir karena sakit. Akhirnya kelompok Harimau hanya beranggotakan tiga orang yakni akbar, Buyung, dan saya sendiri.
Sebelum kembali berjualan, kami menyusun strategi yang lebih efektif agar hari kedua ini bisa lebih menghasilkan lebih dari hari pertama. Akhirnya Akbar memiliki ide agar kita mengesampingkan profit setinggi-tingginya karena kita lebih setuju agar barang kami laku habis terjual walaupun dijual dengan harga yang tidak terlalu tinggi namun tetap memiliki standar jual yang kami sepakati.
Tepat pukul 07:00 WIB, kami mulai berjualan. Saya berjualan ke daerah Dipati Ukur sedangkan Akbar dan Buyung berjualan ke daerah Dago. Kali ini kami hanya diberikan waktu lebih kurang hanya dua jam. Jadi kami harus menggunakan kesempatan ini dengan maksimal.
Akhirnya kami mendapatkan hasil yang memuaskan. Dengan keyakinan dan kerja keras yang maksimal kami mendapatkan hasil yang diluar dugaan. Saaat kembali ke gedung Kresna kami menghitung omzet yang kami peroleh hari itu. Kami mendapatkan Rp 1.800.000. Hasil yang sepadan dengan kerja keras kami. Kai bisa membuktikan bahwa kegagalan kami sebelumnya menjadi cambuk agar kami berusaha lebih keras dan kami bisa membuktikan walaupun hanya beranggotakan tiga orang kami bisa mendapatkan hasil yang maksimal.

Kesimpulan
Hal yang dapat saya pelajari selama dua hari outbond dengan kegiatan menjual buku dan pulpen ini adalah kita tidak perlu takut dan malu dalam menjual. Apabila kita yakin dengan produk yang kita jual maka kita past bisa menjual produk tersebut dengan baik.
Saat terjun dalam dunia bisnis, yang paling penting adalah mental dan watak yang baru dengan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang tidak produktif. Sebagai contoh kecil kebiasaan menunda. Untuk mengbah itu semua memang tidak mudah, diperlukan proses yang terus menerus sehingga kita bisa menjadi pribadi yan baru. Kita harus keluar dari zona nyaman kita apabila ingin membangun kerajaan bisnis yang besar.
Dalam diri seseorang terdapat raksasa yang tertidur. Raksasa dalam diri kita tidak disadari oleh kebanyakan orang. Raksasa ini dapat melakukan apa saja yang kita anggap mustahil. Kekuatan raksasa ini begitu besar sehingga apabila kita sudah membangunkannya maka percepatan karir atau bisnis kita akan berkali-kali lipat. Masalahnya adalah tidak semua orang mau membangunka raksasa tersebut, padahal caranya mudah yaitu mau merubah diri sendiri
Musuh terbesar bukan berada pada orang lain namun musuh terbesar sebenarnya adalah diri sendiri. Apabila kita bisa mengalahkan diri sendiri bisa dipastikan kita bisa mengalahkan orang lain. Kita tidak akan pernah takut berhadapan dengan orang lain.
Setelah dua hari mengikuti pelatihan dan outbond dari Kaizinov, kesan dan pesan saya adalah saya akhirnya berhasil melakukan apa yang saya anggap mustahil namun ternyata bisa dilakukan. Kini saya lebih terbuka dalam berpikir dan lebih terbuka dengan peluang-peluang yang ada di depan mata. Namun saya sempat sedikit kecewa karena saya berharap outbondini akan dilakukan di ruang terbuka, namun hamper sebagian besar waktu dihabiskan dalam ruangan yakni di gedung Kresna SBM ITB.
Kedepannya dalam waktu lima tahun saya memiliki visi untuk bisa mendirikan perseroan terbatas dan memiliki pabrik manufaktur yang telah memiliki sistem sehingga ada atau tidak campur tangan saya perusahaan saya tetap berjalan. Saya ingin memiliki rumah untuk tempat tinggal saya dan keluarga saya seharga minimal  satu milyar  di kawasan BSD atau Bintaro. Saya ingin mandiri hidup dari penghasilan saya dan bisa membantu orang tua serta membanggakannya. Saya yakin semua itu bisa tercapai dengan cita-cita, perencanaan, kerja keras, kerja pintar, dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Comments

comments

Comments are closed.