SBY Terima Gelar Ksatria, Sebuah Gengsi Atau Ironi


Tulisan saya kali ini hanyalah berdasarkan opini pribadi didukung dari fakta-fakta yang terjadi saat ini. Saya sebelumnya belum pernah menulis sebuah opini yang meliputi dunia sosial politik seperti ini, namun tak ada salahnya mencoba, bukan begitu?
31 Oktober lalu SBY sedang berada di Inggris menerima gelar ksatria dari ratu Elizabeth. Gelar ksatria yang diterima SBY adalah Knight of Grand Cross in the Order of Bath. Dari nama gelarnya sunggu sangat memukau bukan? Disebut-sebut bahwa SBY mendapat gelar ini bisa disejajarkan dengan mantan presiden AS Ronald Reagen. Diebutkan juga bahwa SBY mendapatkan gelar tertinggi dari Order of Bath yakni Knight Grand Cross.
Saya patut memberi selamat kepada bapak presiden kita yang sudah menerima sebuah kehormatan yang begitu besar dari kerajaan inggris. Ini menunjukkan bahwa setidaknya Indonesia dipandang baik oleh kerajaan Inggris. SBY membuktikan kepada dunia bahwa ia bisa dinobatkan sebagai pemimpin yang bisa membawa Indonesia kearah perubahan yang lebih baik.

Dilain pihak saya cukup mempertanyakan juga atas dasar apa SBY bisa mendapatkan gelar bergengsi tersebut. Kita melihat bahwa di Indonesia pun sedang terjadi masalah yang tak kalah luar biasanya, dari kasus Hambalang hingga kasus bentrokan di Sumatera Selatan. 

Apakah pemberian gelar ksatria ini akan berdampak baik bagi Indonesia ke depannya atau hanyalah sekedar pelicin untuk kepentingan Inggris dalam penguasaan sektor-sektor penting di Indonesia? Kita tahu bahwa di dunia ini tidak ada yang gratis. Kita ambil contoh pemberian gelar doctor honoris kausa kepada raja arab yang dilakukan oleh rektor Universitas Indonesia beberapa waktu yang lalu. Disinyalir pemberian gelar ini hanyalah sebagai jalan untuk supaya raja arab memberikan tambahan kuota jemaah haji kepada Negara kita. Tidak menutup kemungkinan apa yang dilakukan Inggris ini sama halnya dengan kasus tersebut.
Pertanyaan lain muncul di benak saya mengapa presiden lebih memilih pergi menerima gelar tersebut daripada pergi ke lampung untuk mengecek keaadan disana dan menunda keberangkatan ke Inggris. Rakyat bisa menilai bahwa SBY ternyata lebih mementingkan pemberian gelar tersebut daripada mengurusi ngaranya yang sedang memiliki banyak masalah. Rakyat akan salut dan cinta kepada SBY apabila ia mengambil keputusan untuk pergi mengunjungi rakyatnya yang terkena musibah.

Kritik selanjutnya adalah saya sebagai seoran muslim menyayangkan gelar yang diterima SBY yang juga seorang muslim. Mengapa? Karena gelar Knight Grand Cross apabila diterjemahakan adalah Ksatria Salib Agung. Order of Bath memiliki semboyan Tria numina iuncta in uno dalam bahasa inggris three powers/gods joined in one, kalimat tersebut mengandung pemahaman ajaran kristiani yakni konsep trinitas. Jadi sudah jelas bahwa ini adalah bukan tradisi Islam. Saya bukan bermaksud SARA namun alangkah baiknya menghindari ajaran atau tradisi yang bukan ajaran islam, karena dalam ayat al-quran yang berbunyi “bagimu agamamu, bagiku agamaku”.

Kesimpulannya adalah saya sangat menghargai apa yang SBY telah terima sebagai gelar ksatria ini. Namun sebagai catatan pihak yang memberikan gelar tersebut adalah pihak asing bukan rakyat dan bangsa Indonesia. Kita bisa saja berbangga mendapat sebuah penghargaan dari orang yang tidak kita kenal baik, namun tidak ada kata yang bisa diungkapkan apabila kita mendapatkan penghargaan dari pihak yang mengenal kita yang satu darah dengan kita yang satu bahasa dengan kita yakni bangsa Indonesia. Bergengsi atau ironi, anda yang menilai.

Comments

comments

Comments are closed.